Empat Kekhawatiran Produsen Otomotif Global

By | January 11, 2017

Washington, Unilinkrc.info – Para pebisinis otomotif roda empat di dunia dilanda kekhawatiran, terkait nasib bisnisnya ke depan. Bukan cuma karena “tweet” presiden terpilih Amerika dua hari terakhir ini, yg menebar ancaman ke dua produsen otomotif, tetapi lebih dari itu.

Mengutip The Guardian, Selasa (10/1/2017) keadaan yg perlu dihadapi selain Trump, merupakan teknologi otonomos (driveless), keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), serta isu perubahan iklim yg menyebabkan pemanasan global, salah satunya karena polusi. Jika Trump mampu hengkang maksimal sepuluh tahun lagi, tetapi tak bagi ketiga hal tersebut.

Perdagangan yg Goncang

Penjualan mobil di Inggris mencapai rekor pada 2016, tapi industri memperkirakan bahwa pertumbuhan mulai “mogok” sebagai konsekuensi dari Brexit (termasuk inflasi tinggi), dan mulai menyebabkan penurunan 5 persen sampai 6 persen pada 2017.

Di bawah skenario terburuk, tarif pajak yg diberlakukan oleh Uni Eropa kepada Inggris dapat membuat harga bertambah 1.500 poundsterling atau Rp 24,2 juta lebih mahal buat setiap mobil, menurut Society of Motor Manufacturers and Traders. Skenario sama mulai terjadi seandainya Trump sampai hati mengacak-acak kembali Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

David Bailey, Profesor strategi industri di Aston University, mengatakan, “Perdebatan mengenai Brexit perdebatan mulai tarif pajak atas mobil, dapat juga menimbulkan persoalan besar dalam rantai pasokan di Eropa.”

Pembatasan Emisi

Untuk memenuhi target Uni Eropa, produsen harus mengurangi emisi rata-rata kendaraan mereka. Dalam dua kasus, pemotongan yg begitu kuat, membuat pabrikan seperti contohnya Jaguar Land Rover benar-benar pindah ke segmen mobil listrik. Ke depannya, diperkirakan mulai semakin banyak produsen yg mengikuti langkah tersebut

Memulihkan Kepercayaan

Industri harus membangun kembali kepercayaan konsumen, setelah skandal emisi diesel Volkswagen. Akibatnya, segala merek harus rela mengikuti pengujian dan regulasi yg lebih ketat. Banyaknya kota yg melahirkan regulasi pembatasan mesin konvensional, mampu membuat mesin diesel menjadi leibh bersih, tetapi itu juga mulai berefek pada harga jual.

“Teknologi tersebut mulai mendongkrak harga mobil. Renault juga menyampaikan hal itu mampu membuat biaya produksi mobil kecil terlalu mahal,” ujar Bailey.

Mobil otonomos

Bailey mengatakan, kalau mobil otonomos mulai menjadi lazim di daerah perkotaan pada pertengahan 2020-an, yg akhirnya merevolusi transportasi kota. “Anda mulai memanggil mobil melalui telepon. Kondisi ini mulai menggeser keseimbangan kekuatan, dari produsen mobil ke penyedia layanan,” ujar Bailey,

Saat ini telah tampak, seperti BMW yg sudah bekerja sama buat mobil listriknya i3 dengan DriveNow yg bergerak di bisnis car-sharing. Kemudian General Motors bermitra dengan aplikasi taxi-hailing Lyft buat percobaan driverless car.

Para produsen mobil bersama raksasa teknologi, menghabiskan miliaran dolar buat menghasilkan mesin bersih dan kendaraan listrik, yg dapat terhubung secara digital. “Isu yg menarik adalah berapa banyak pembuat mobil harus bekerja sama dengan perusahaan teknologi,” ujar Bailey.

Sumber: http://otomotif.kompas.com