Industri Otomotif Pasrah Dengan Kenaikan SRUT

By | February 23, 2017

Jakarta, KompasaOtomotif – Sejak Juni tahun lalu, Kementerian Perhubungan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2016 Tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak, menaikkan biaya penerbitan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT). SRUT yg sebelumnya hanya berlaku buat kendaraan niaga, akan tahun ini dikenakan baik buat mobil dan sepeda motor.

Sebelumnya, SRUT bagi sepeda motor naik hanya, Rp 25.000, dengan regulasi baru, naik  menjadi Rp 100.000 per unit kendaraan. Sementara mobil penumpang, bus, pengangkut barang dan lainnya, dari Rp 35.000 menjadi Rp 500.000. Aturan ini telah berlaku sejak Juni 2016 lalu.

Baca: Jangan Kaget, Ada Tambahan Rp 500.000 Setiap Beli Mobil Baru

Sigit Kumala, Ketua Bidang Komersial Asosisasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) sempat mengatakan, kalau pihaknya dan para anggota masih terbebani oleh tarif SRUT baru tersebut. Ini dilontarkan ketika Unilinkrc.info menanyakan mengenai wacana “Cukai Otomotif” yg mulai diberlakukan.

Kemudian, Ketua Umum AISI Gunadi Sindhuwinata mengatakan, pihaknya berharap aturan ini dapat dikaji ulang oleh Kementerian Perhubungan, setelah pungutannya akan ditarik sejak tahun lalu. Namun, dirinya tak mengetahui kapan itu mulai dikerjakan Kemenhub.

“Nampakannya telah tak ada perubahan revisi, lalu telah kita upayakan. Pastinya kalian harap dapat meminta peninjauan kembali, dan sampai kapan ditinjau ulang, masih dalam proses,” ujar Gunadi.

Gaikindo Pasrah

Johannes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyampaikan kalau kenaikan SRUT memang telah tak aneh, tetapi memang kenaikannya cukup tinggi. Pihaknya telah pernah meminta keringanan, tetapi upaya itu tak berhasil.

“Sudah pertemuan dengan Kemenhub, tetapi merek bilang tak bisa, dan telah menjadi peraturan. Jadi dari kalian tak masalah, dan telah berlangsung juga. Memang SRUT sebelumnya berlaku di kendaraan komersial, yg pengaturannya ada saat uji berkala (KIR), tetapi bagi kendaraan penumpang pengawasannya seperti apa belum tahu,” ujar Nangoi.

Sumber: http://otomotif.kompas.com