Ini Hasil Test Drive Toyota Calya Di Semarang-Solo

By | September 22, 2016

Pekan lalu, Merdeka.com bersama dua jurnalis diundang melakukan test drive Astra Toyota Calya, mobil entry MPV 7 penumpang. Mengambil rute Semarang-Solo, pihak Toyota Indonesia menyiapkan lima unit Calya buat dijajal para awak media.

Calya warna putih dengan transmisi otomatis menjadi tunggangan Merdeka.com bersama tiga jurnalis lain. Ya, berisi empat penumpang dan bagasi cukup penuh, Calya yg telah dipesan sebanyak 21.700 unit per 10 September dulu bersiap melaju di jalanan ibukota provinsi Jawa Tengah ini.

Setelah berputar-putar di Semarang bagi mengunjungi dua resto menarik, Calya melaju menuju tol Semarang-Bawen. Siang itu dua ruas jalan di semarang cukup padat. Masuk di segmen low cost green car (LCGC), Calya mengusung mesin terbaru bersandi 3NR berkapasitas 1.200 cc memakai teknologi dual VVT-i.

Jalan Dalam Kota
Berkendara di Semarang dengan keadaan jalan normal, Calya berkesan enak dikendarai, dengan setir ringan sehingga gampang dikendalikan. Menggunakan transmisi otomatis, Calya putih semakin nyaman dikendarai. Joknya tak terlalu tebal memang, tetapi desain dashboard yg melandai tampak rendah sehingga visibilitasnya cukup baik.

Cukup letakkan transmisi di posisi D4, Calya dapat menaklukkan jalan raya ibukota provinsi Jawa Tengah ini. Tak perlu menekan pedal gas terlalu dalam, karena mesin 1.200 cc empat silinder ini cukup responsif memenuhi keinginan pengemudi. Didukung sistem penggerak roda depan, Calya gampang berakselerasi di jalan raya, seperti buat melewati kendaraan yg melambat di depan.

Cuma mesti waspada, ketika jalanan mendaki dan macet, seperti ketika aku melewati ruas jalan menuju tol Semarang-Bawen. Saat mobil dalam kondisi stop and go itu, aku menginjak pedal gas cukup dalam supaya jalan mendaki dan macet itu dapat ditaklukkan. Akibatnya mesin yg menghasilkan torsi maksimal 11 kgm pada putaran mesin 4.200 rpm sedikit meraung dan ini cukup terdengar dari dalam kabin. Tapi tidak usah khawatir, Calya tak mundur ketika mendaki kok.

Yang cukup mengganggu ketika membawa Calya di jalan dalam kota ini, tuas transmisi otomatisnya yg agak los, ketika mesti pindahkan tuas dari posisi P, R, N, D4, 3, atau 2. Akibatnya, tuas kadang kelebihan posisi. Ditambah letak transmisi yg menempel di dashboard, ada faktor gravitasi yg membuat tuas transmisinya kian los. Mestinya tuas transisi agak tertahan di setiap pergantian posisi, mengingat Calya menyasar pembeli mobil pertama, yg user experience-nya bagi transmisi otomatis rendah.

Dimensi bodinya yg kompak, membuat Calya gampang membelah jalan kota Semarang yg cukup padat ketika itu. Lepas dari jebakan macet itu, Calya putih melaju di jalan tol Semarang-Bawen. Kondisi jalan tol ketika itu lengang dan cuaca cukup terik. Kondisi ini aku manfaatkan buat memacu mobil entry MPV ini.
Jalan Tol
Cukup terkejut dengan kinerja Calya di jalan bebas hambatan ini. Saya gampang melaju hingga tidak merasa mobil telah mencapai kecepatan 120 kilometer per jam (kpj). Dibandingkan kompetitor, suara bising yg biasanya timbul ketika melaju di atas 80 kpj, dapat diredam dengan baik di kabin Calya.

Saat melaju di ruas tol Bawen yg mendaki-melandai, Calya tidak kehilangan tenaga meskipun kecepatannya sulit beranjak lebih dari 120 kpj. Saya juga tidak khawatir melaju cepat, karena Calya memiliki sistem pengereman terbaik di kelas LCGC 7 penumpang, berkat ventileted disk buat roda depan dan rum buat roda belakang, serta Anti-Lock Braking System (ABS). Apalagi dari sisi keselamatan, Calya memenuhi standar New Car Assessment Program For South Asian Countries (ASEAN-NCAP) dengan rating 4.

Bodi mobil juga cukup stabil, tanpa body movement yg besar, sehingga mobil masih enak dikendalikan ketika melaju kencang. Ini berkat sistem suspensi McPherson Strut with Coil with Stabilizer di bagian depan, dan Semi Independent Torsion Axle Beam with Coil di bagian belakang (tipe E), serta Semi Independent Torsion Axle Beam with Coil with Stabilizer (tipe G). Saat melaju itu, mobil tak mantul-mantul seperti Avanza generasi pertama. Tapi hati-hati dengan kemudinya yg ringan. Sistem penggerak roda depannya juga cukup fungsional ketika melibat di tol Bawen, lantaran Calya memiliki kemampuan akselerasi yg cukup baik.

Saat keluar tol, aku berganti posisi sebagai penumpang. Posisi duduk di baris kedua cukup lega dan nyaman. Head room dan knee room cukup buat orang dengan tinggi badan sekitar 170 centimeter. Jika kurang nyaman, posisi jok baris kedua ini dapat maju-mundur. Tantangannya ada di posisi duduk jok baris ketiga. Kabin juga cukup dingin, berkat adanya fitur A/C Circulation yg membawa udara dingin dari depan ke belakang.

Berada di segmen entry MPV dengan harga akan Rp 132 jutaan, Calya memiliki fitur yg lengkap di atas rata-rata di segmennya. Desain eksteriornya sporty yg dibuat lewat bahasa desain Toyota, keen look dan under priority. Lihat saja lampu depan berbentuk heksagonal dan grille trapesium.

Mobil mini yg dapat menampung 7 penumpang ini berlimpah fitur, jenis power window, on-off Eco Indicator, dan layar keterangan Multi Display. Ditambah fitur keselamatan immobilizer, sealtbelt dengan Pretensioner and Force bagi 7 penumpang, dual SRS Airbag, Driver Seatbelt Reminder, dan Parkir Sensor.

Untuk entertainment atau hiburan, Calya dilengkapi dengan 4 speaker dari feature audio 2 DIN CD/USB/MP3/Aux buat tipe E dan 2 DIN CD/USB/MP3/AUX/Bluetooth/Voice Call buat tipe G.Baca juga:
Mengapa Toyota Calya gampang populer? Ini jawabannya!
Jika Calya dipesan 21.700 unit, Daihatsu Sigra baru 12.414
Toyota kuasai semua segmen MPV selama Agustus
Toyota kian kuat dengan pangsa pasar 37,8 persen di Agustus
Fitur Auto Cut di Calya, bikin aki lebih awet

Sumber: http://www.merdeka.com

Leave a Reply