Ini Tiga Local Hero Di Datsun Risers Expedition 2 Lampung

By | November 16, 2016

Tiket pesawat Rp 699,000 bayar Rp 600,000 aja! Pergi.com yuk Datsun Risers Expedition (DRE) 2 di Lampung memang telah berakhir Minggu (13/11) lalu. Tapi, yg berkesan dari ekspedisi alam dan budaya provinsi penghasil rempah-rempah lada, yg juga diikuti Merdeka.com adalah perkenalan para peserta dengan tokoh inspiratif setempat alias local hero.

Dalam DRE 2 Lampung ini, risers dikenalkan dengan tiga tokoh inspiratif. Local hero pertama adalah Iskandar Zulkarnain, pemilik sanggar budaya Kusumo Rajo di Desa Wana, Kecamatan Melinting, Lampung Timur. Lewat sanggar budayanya, Iskandar menjaga dan melestarikan warisan budaya Tari Melinting. Caranya, dengan mengajarkan kepada anak-anak tarian yg menjadi ciri khas marga Melinting di Lampung Timur ini. Iskandar semakin senang, lantaran Tari Melinting sudah diakui hak ciptanya oleh PBB sebagai punya Keratuan Melinting Lampung Timur sejak 2012.

Eksistensi Tari Melinting juga tidak mengurangi daya tarik Desa Wana, yg yaitu desa tradisional di Lampung Timur yg dikenal sebagai desa yg mempertahankan keaslian rumah adatnya berupa rumah panggung. Ada pula koleksi kain tapis khas Lampung yg berusia ratusan tahun.

“Ada sekitar 100 rumah panggung yg yg masih dijaga keasliannya sejak dahulu di Desa Wana,” ujar Iskandar yg dijumpai Merdeka.com di kampung halamannya.

Local hero kedua adalah Rudi Hartono, perintis rumah baca Pelangi di Desa Labuhan Ratu 9, Way Kambas, juga di Lampung Timur.
Menurut Rudi (28 tahun), rumah baca ini dibangun dari ide dia dan kawan-kawannya sejak awal 2015. Saat awal, rumah baca ini cuma memiliki 15 buku. Seiring berjalannya waktu, kini koleksinya buku di rumah baca ini mencapai 900 buku.

“Koleksi buku dari sumbangan kawan-kawan aku yg peduli ditambah 300 buku pinjaman dari perpustakaan daerah,” ujar Rudy yg berprofesi sebagai buruh.

Berbekal rumah baca, Rudi berharap anak-anak di Desa Labuan Ratu 9 memiliki minat baca tinggi hingga haus terhadap ilmu. Menariknya, selain menyediakan buku-buku dan majalah anak-anak, setiap akhir minggu Rumah Baca Pelangi mengajarkan kepada anak-anak Bahasa Inggris. Gurunya adalah kawan Rudi, sebut saja Mba Tuti, mantan tenaga kerja wanita (TKW) di Singapura dan Taiwan.

“Motivasi saya, ingin anak-anak ini mampu bicara Bahasa Inggris. Setidaknya berani menyapa para turis, karena ini desa penyangga wisata Way Kambas. Intinya anak-anak mampu berkomunikasi dengan turis,” ucap Tuti.

Datsun Indonesia pun mendukung Rumah Baca Pelangi ini, dengan memberikan sumbangan dana sekitar Rp 5 juta. Dana bantuan itu bagi keperluan pembelian buku dan peralatan penunjang rumah baca ini.

Para riser juga mendapat kesempatan buat bertemu dan berbincang dengan Siti Rahayu, local hero ketiga. Siti Rahayu dikenal dengan produksi sulam usus terbaik di Bandar Lampung dan memiliki visi buat memberdayakan perempuan melalui seni sulam yg yaitu warisan dari nenek moyang suku Lampung Pepadun.

Christian Gandawinata, Head of Marketing Datsun Indonesia, menyampaikan Datsun yakin bahwa cara terbaik buat mendalami budaya khas di suatu daerah adalah dengan berguru pada local hero. “Seperti kepada Ibu Siti Rahayu ini. Beliau adalah sosok inspiratif yg teguh dan giat bekerja keras bagi mengejar mimpi melestarikan budaya daerahnya,” pungkas dia.Baca juga:
Datsun Risers Expedition 2 angkat kekayaan budaya dan alam Lampung
Hari ke-2 DSE, Datsun & risers sambangi Pugung Raharjo dan Desa Wana
Ini strategi dan ‘senjata perang’ Datsun Indonesia di 2017
Hari ini, Datsun ajak 12 risers jelajahi potensi Lampung
Penggemar modifikasi mobil Medan ditantang Datsun Indonesia

Sumber: http://www.merdeka.com

Leave a Reply