Kenali Karakter Pelek Jari-jari Dan “Racing” Buat Sepeda Motor

By | December 7, 2016

Jakarta, Unilinkrc.info – Banyaknya sepeda motor yg beredar di jalan memakai pelek racing (cast wheel), bukan berarti kalau pelek jari-jari punah. Ini cuma persoalan tren yg sedang merebak ketika ini di dunia otomotif roda dua.

Sampai ketika ini, kedua macam pelek tersebut masih disematkan pada dua model motor. Walaupun memang lebih banyak dengan macam pelek “racing” (dari pabrikan). Meski begitu, masih banyak di pasar aftermarket yang menyediakan pelek model jari-jari, seandainya ada yg ingin mengganti.

“Ini cuma persoalan tren dan ‘taste’ si pengendara. Karena tak ada perbedaan mendasar, antara pelek racing maupun jari-jari. Bedanya pada bahan pembuat dan tampilannya saja,” Endro Setiaji, mekanik Honda Jateng dari AHASS Kurnia Agung Kendal, kepada Unilinkrc.info, Minggu (4/12/2016).

Karakter

Mekanik yg bakal mewakili Honda Indonesia di kontes mekanik Asia-Oceania di Vietnam itu juga menambahkan, kalau pelek racing lebih rigid (kaku), di mana itu mulai lebih cocok buat jalan berkarakter aspal atau sirkuit aspal. Sementara buat pelek jari-jari, milik karakter lebih lentur.

“Dibanding dengan pelek racing yg milik sifat lebih kaku, pelek jari-jari mulai pas bila digunakan buat jalan sedikit bergelombang, berpasir, atau berkerikil, karena kelenturannya,” ujar Endro.

Perlu “balancing”

Terkait dengan perawatan, Endro melanjutkan, kalau segala macam pelek, baik racing ataupun jari-jari, telah seharusnya membutuh perawatan rutin. Di mana keduanya butuh pemeriksaan balancing, bearing roda, ban, secara periodik.

Pemeriksaan pelek juga seharusnya langsung dikerjakan ketika dirasa ada yg kurang ‘enak’ saat sepeda motor dikendarai (terasa kemudi tak stabil atau goyang karena faktor yg berasal dari roda).

“Dibading pelek racing, jari-jari sebenarnya lebih gampang terlihat, seandainya ada kerusakan, seperti jari-jari yg kendor atau patah, selain merasakan ketidakstabilan sepeda motor ketika dikendarai. Intinya agar pelek tetap aman, hindari pemakaian motor yg terlalu ekstrem, seperti kerap menghajar lubang dengan keras dan melintasi polisi tidur dengan kecepatan tinggi,” tutur Endro.

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply