Metode Uji BBM “Full To Full” Belum Tentu Akurat

By | November 22, 2016

Jakarta, Unilinkrc.info – Mencari konsumsi bahan bakar kendaraan dengan metode full to full ternyata tak terus akurat. Masalahnya penggunaan metode ini kadang melupakan sifat bahan bakar minyak (BBM) di dalam tangki yg bertambah volumenya saat panas.

Pada pengetesan full to full, tangki kendaraan diisi penuh BBM sampai batas yg telah ditandai sebagai patokan. Setelah digunakan dalam jarak tertentu, tangki kendaraan diisi lagi dengan BBM sampai batas yg sama ketika diisi pertama.

Volume BBM tambahan itu berarti konsumsi selama perjalanan. Jika hasil itu dibagi jarak tempuh, maka ketemu angka sekian kilometer per liter (kpl).

Menurut peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Ing. Ir. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, ketika kendaraan digunakan, BBM di dalam tangki bertambah panas. Faktor yg memengaruhi kenaikan suhu itu misalnya dari kerja mesin kendaraan dan cuaca.

“Dengan kata lain, bensin yg ada di dalam tangki makin lama panas. Kalau bensin suhunya naik maka volumenya meningkat atau mengembang. Sehingga full to full seperti ini sebetulnya tak akurat,” papar Tri di Jakarta, Sabtu (19/11/2016. 

Saat BBM di tangki sedang mengembang lantas dituang BBM tambahan, maka seolah-olah butuh volume lebih sedikit hingga penuh. Volume tambahan ini bakal memengaruhi kpl yg didapat kendaraan.

Cara yg benar menurut Tri, menunggu hingga BBM dingin dan volumenya menciut. Jika dikerjakan menggunakan cara laboratorium maka harus menunggu 12 jam sampai BBM dingin mencapai suhu normal.

Full to full belum tentu menghasilkan angka yg tepat, namun cara ini salah sesuatu yg menggambarkan penggunaan sehari-hari. Batas kesalahan metode full to full tak mampu ditentukan, kata Tri. Kendalanya, faktor ilmiah selama pengujian harus tercatat lebih dulu. 

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply