Pebisnis Sepeda Motor Mulai Hitung Kenaikan Harga

By | January 6, 2017

Jakarta, Unilinkrc.info – Hadirnya Peraturan  Pemerintah Nomor 60 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB) yg berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia, memberikan ketetapan biaya baru buat kepengurusan surat kendaraan (STNK, BPKB, STCK, Mutasi, NRKB, dan TNKB ).

Tidak tanggung-tanggung, tarif baru tersebut naik berkali-kali lipat dari aturan sebelumnya (PP Nomor 50 Tahun 2010). PNPB sendiri menjadi salah sesuatu instrumen pendanaan kas negara, yg nilainya tak sedikit. Pada 2016, sumbangan PNPB mencapai angka Rp 262,4 triliun.

Namun, di yang lain sisi, perubahan ini membawa efek lain, di mana harga kendaraan yg menyesuaikan, di mana mampu menjadi lebih mahal. Selain konsumen yg bakal terbebani, pebisnis kendaraan juga akan putar otak.

Baca juga : Penjelasan Polisi Terkait Kenaikan Biaya Surat Kendaraan

Gunadi Sindhuwinata, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mengatakan, kalau produsen kendaraan di Indonesia, khususnya sepeda motor, mau tak mau harus melihat secara keseluruhan. Kemudian menyesuaikan, apakah harus menaikkan harga, atau mempertahankan harga sebelumnya.

“Kami harus berpikir cermat apakah harus ada penyesuaian harga. Artinya seandainya beban konsumen menjadi lebih tinggi karena sesuatu dan yang lain hal, seperti salah satunya ketetapan baru ini, kita harus meperhitungkan apakah konsumen sanggup. Kalau ternyata tak sanggup (penjualan melorot), kita tak mungkin diam, dan memikirkan bagaimana pasar dapat bergairah,” ujar Gunadi kepada Unilinkrc.info,  Rabu (4/1/2017).

Baca juga : Taris Pengurusan Surat Naik, Jadi Beban Pembeli Kendaraan?

Gunadi menambahkan, kalau beban produsen dalam merumuskan harga buat suatu produk, tak cuma sebatas urusan tarif pengurusan surat, tetapi masih banyak dari faktor lain, akan dari harga komponen, inflasi, bahan baku. Jadi benar-benar harus cermat.

“Syukur-syukur ketika tarif ini naik, harga yg lainnya tak berubah (memberatkan beban biaya produksi). Semua itu dapat sangat memengaruhi juga pada kinerja perusahaan, dan strategi setiap perusahaan pastinya berbeda-beda,” ujar Gunadi.

“Namun, efek negatif dari penetapan ini masih belum mampu diprediksi sekarang, karena masih terlalu dini,” ucap Gunadi.

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply